Pernah dengar cerita seseorang tiba-tiba berjalan ke dapur tengah malam, membuka kulkas, lalu kembali tidur tanpa ingat apa pun keesokan harinya? Fenomena ini dikenal sebagai sleepwalking atau dalam istilah medis disebut somnambulisme. Meski terdengar seperti adegan film, kondisi ini nyata dan cukup sering terjadi, terutama pada anak-anak.
Sleepwalking termasuk gangguan tidur yang terjadi saat seseorang berada dalam fase tidur dalam (deep sleep). Pada fase ini, otak belum sepenuhnya terjaga, tapi tubuh bisa bergerak dan melakukan aktivitas sederhana. Inilah yang membuat kondisi ini terasa misterius.
Apa Itu Sleepwalking?
Sleepwalking adalah kondisi ketika seseorang bangun sebagian dari tidur dan melakukan aktivitas tanpa sadar. Aktivitas tersebut bisa ringan seperti duduk di tempat tidur, berbicara, atau berjalan mengelilingi rumah. Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan bisa membuka pintu, mengganti pakaian, atau mencoba keluar rumah.
Data dari Mayo Clinic dan National Sleep Foundation menunjukkan bahwa sleepwalking lebih sering terjadi pada anak-anak usia 4–12 tahun. Namun, orang dewasa juga bisa mengalaminya, terutama jika memiliki riwayat kurang tidur, stres berat, atau gangguan tidur lain.
Baca Juga:
5 Fenomena Aneh Saat Tidur yang Masih Jadi Misteri di Dunia Kesehatan
Biasanya, episode sleepwalking berlangsung beberapa menit, tetapi ada juga yang lebih lama. Setelahnya, orang tersebut kembali tidur dan tidak mengingat apa pun saat bangun pagi.
Kenapa Sleepwalking Bisa Terjadi?
Sleepwalking terjadi saat otak berada dalam transisi yang tidak sempurna antara fase tidur dalam dan fase bangun. Tubuh “aktif”, tapi kesadaran belum sepenuhnya menyala.
Beberapa faktor yang sering memicu sleepwalking antara lain:
1. Kurang Tidur
Kurang tidur membuat pola tidur jadi berantakan. Otak lebih mudah mengalami gangguan saat masuk ke fase deep sleep, sehingga risiko sleepwalking meningkat.
2. Stres dan Tekanan Emosional
Stres berat bisa memengaruhi kualitas tidur. Saat pikiran terlalu aktif, tubuh kesulitan mencapai tidur yang stabil, dan episode sleepwalking bisa muncul.
3. Faktor Genetik
Jika orang tua pernah mengalami sleepwalking, anak punya peluang lebih besar mengalaminya juga. Faktor keturunan cukup berperan dalam gangguan tidur ini.
4. Kondisi Medis Tertentu
Demam tinggi pada anak, sleep apnea, atau konsumsi obat tertentu juga bisa memicu episode berjalan saat tidur.
Gejala Sleepwalking yang Perlu Dikenali
Tidak semua orang yang duduk atau berbicara saat tidur mengalami fenomena sleepwalking. Namun, ada beberapa ciri khas yang sering muncul:
-
Mata terbuka tetapi tatapan kosong
-
Sulit diajak berkomunikasi
-
Respons lambat atau tidak masuk akal
-
Melakukan aktivitas rutin seperti berjalan atau memindahkan barang
-
Tidak mengingat kejadian tersebut keesokan harinya
Pada anak-anak, kondisi ini sering tidak berbahaya dan bisa hilang seiring bertambahnya usia. Namun pada orang dewasa, sleepwalking perlu mendapat perhatian lebih karena berisiko menyebabkan cedera.
Apakah Sleepwalking Berbahaya?
Banyak orang menganggap sleepwalking hanya gangguan kecil. Padahal, risiko utamanya bukan pada gangguan tidur itu sendiri, melainkan pada potensi cedera.
Seseorang yang berjalan tanpa sadar bisa tersandung, jatuh dari tangga, atau bahkan keluar rumah tanpa arah yang jelas. Dalam kasus ekstrem, ada yang mencoba mengemudi kendaraan saat tidur.
Karena itu, lingkungan sekitar perlu dibuat aman, terutama jika ada anggota keluarga yang sering mengalami sleepwalking.
Cara Mengatasi dan Mencegah Sleepwalking
Sleepwalking tidak selalu membutuhkan pengobatan khusus. Namun, beberapa langkah berikut bisa membantu mengurangi frekuensinya:
1. Perbaiki Pola Tidur
Tidur cukup dan teratur sangat penting. Usahakan tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari.
2. Kelola Stres
Coba teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, atau journaling sebelum tidur. Pikiran yang lebih tenang membantu tubuh masuk ke fase tidur yang stabil.
3. Ciptakan Lingkungan Tidur yang Aman
Kunci pintu dan jendela, singkirkan benda tajam, dan hindari tempat tidur tingkat jika anak sering sleepwalking.
4. Konsultasi ke Dokter Jika Perlu
Jika episode terjadi sering, berbahaya, atau muncul di usia dewasa tanpa riwayat sebelumnya, sebaiknya konsultasikan ke dokter atau spesialis gangguan tidur.
Sleepwalking pada Anak vs Orang Dewasa
Pada anak-anak, sleepwalking biasanya bersifat sementara. Sistem saraf mereka masih berkembang, sehingga transisi antar fase tidur belum stabil. Seiring bertambahnya usia, kondisi ini sering menghilang dengan sendirinya.
Berbeda dengan orang dewasa. Jika sleepwalking muncul di usia dewasa, sering kali ada pemicu tertentu seperti stres kronis, kurang tidur ekstrem, atau gangguan kesehatan lain. Dalam situasi ini, evaluasi medis sangat disarankan.
Mitos Seputar Sleepwalking
Ada mitos yang mengatakan kita tidak boleh membangunkan orang yang sedang sleepwalking. Faktanya, membangunkan mereka memang bisa membuat bingung atau kaget, tetapi tidak berbahaya. Namun, cara terbaik tetap mengarahkan mereka kembali ke tempat tidur dengan lembut tanpa membuat panik.
Sleepwalking bukan fenomena mistis atau kerasukan seperti yang sering digambarkan dalam cerita populer. Ini murni gangguan tidur yang bisa dijelaskan secara medis.
Sleepwalking memang terlihat unik dan kadang menyeramkan, tapi dengan pemahaman yang tepat, kita bisa melihatnya sebagai gangguan tidur yang bisa dikelola. Jika kamu atau anggota keluarga sering mengalaminya, jangan panik. Perbaiki pola tidur, kelola stres, dan pastikan lingkungan tetap aman agar risiko bisa ditekan seminimal mungkin.
